LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Hal yang kamu persiapkan sebelum mendaki gunung semeru

ragilirm

On

Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. Dengan puncaknya bernama Mahameru. Pasir ikoniknya meninggalkan kesan bagi siapa saja yang pernah mencumbunya. Kebulan asap dari kawah Jonggring Soloka membuatnya semakin dicinta. Menjadi impian bagi siapa saja untuk kesana. Nah, berikut hal-hal yang bisa kamu siapkan sebelum mendaki gunung Semeru.

REGISTRASI

Perlu diketahui, mulai Oktober 2017 nanti, pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) memberlakukan sistem online bagi pendakian Gunung Semeru. Kuota per hari 300 orang. Jadi, minimal seminggu sebelum pendakian, urus dulu registrasi onlinenya. Silakan kunjungi website TNBTS ini. Harga surat izin memasuki kawasan konservasi (SIMAKSI) 17.500/orang/hari (weekday) dan 20.000/orang/hari (weekend). Kemudian siapkan fotokopi KTP/SIM/Passport, surat keterangan sehat dari dokter (yang berlaku maksimal 4 hari), materai 6000, dan bukti pembayaran. Nah, semua berkas di atas dijadikan rangkap dua.

Oh ya, datang ke pos Ranupani jangan lebih dari pukul 15.30 WIB. Soalnya briefing terakhir hanya sampai waktu tersebut. Jika melebihi, maka dilakukan esok harinya.

Persyaratan di atas memang harus dilakukan. Selain memudahkan pihak TNBTS mendata dan mengontrol pengunjung, juga menghindarkan kita sebagai pendaki ilegal. Yang illegal-ilegal itu kan tidak enak didengar. Iya kan ?


SIAPKAN PERALATAN

Sesuai ketentuan dari pihak TNBTS, peralatan yang wajib dibawa per orang adalah sepatu trekking, sandal, pakaian lapang, kaos kaki, topi/balaclava, jaket, tas ransel, jas hujan/raincoat, sleeping bag, matras, senter/headlamp. Untuk peralatan kelompok seperti tenda dan alat masak.

Peralatan di atas memang standar pendakian gunung. Tapi ada peralatan yang saya rasa masih kurang. Yaitu obat-obatan. Baik P3K maupun obat pribadi (bagi yang memiliki penyakit tertentu). Terlihat sepele dan sering disepelekan. Bagi saya peralatan itu wajib dibawa ketika melakukan kegiatan di alam.

Tapi masih disayangkan, tren pendakian gunung tidak diimbangi dengan kesadaran akan keselamatan diri sendiri (maupun lingkungan). Saya masih menjumpai pendaki yang tidak memakai sepatu maupun masih menggunakan celana jins. Pun menemui pendaki yang tidak membawa obat-obatan. Bahkan buang sampah sembarangan.

Peralatan-peralatan itu bukan tanpa dasar dicantumkan sebagai standar pendakian. Berkegiatan di alam bebas sejatinya kita harus siap dengan segala resiko. Nah, untuk meminimalkan resiko, kita perlu dibekali dengan pengetahuan dan latihan.

PERSIAPKAN FISIK

Kegiatan di alam bebas menuntut fisik yang prima. Karena kita mengandalkan kemampuan fisik (selain mental dan pengetahuan). Bagaimana cara mendapatkannya ? Latihan, latihan, dan latihan. Sebenarnya tidak hanya gunung Semeru saja. Persiapan pendakian gunung (tropis) kurang lebih sama.

Mendaki atap pulau Jawa bukan hal yang main-main. Memang jalurnya basa-basi di awal. Tapi semua berubah ketika kamu mencoba menuju puncaknya. Medan yang curam dan berpasir. Rumus 1 in 3. Naik 1 langkah, turun 3 langkah. Menenggelamkan sepatu-sepatu trekking yang mencari pijakan sebagai usaha meraih puncak. Juga perlu kewaspadaan terhadap batuan lepas di sepanjang jalur. Belum lagi perjalanan dini hari melawan rasa kantuk dan dingin yang menusuk.

Sebelum melakukan pendakian, biasanya saya melakukan persiapan fisik dulu.

Karena saya sadar, lebih baik berdarah-darah di tempat latihan daripada mati di medan perang.

Menu latihan fisik yang saya lakukan sebelum pendakian adalah lari, push up, sit up, back up, trap tangga, trap ketinggian, dan variasi telapak kaki. Saya lakukan 5 kali latihan sebelum berangkat.

Hasilnya memang berbeda ketika latihan dan tidak latihan. Capek itu pasti ya. Tapi bisa dibedakan pada nafas dan staminanya.


TRANSPORTASI

Ini nih yang tidak kalah penting. Kebanyakan pasti tanya alur transportasinya. Mari berbagi pengalaman. Alur transportasi pendakian gunung Semeru biasanya lewat kota Malang. Bisa melalui kereta, bis, atau kendaraan pribadi.

Malang – Tumpang – Ranupani

Kendaraan pribadi. Tidak disarankan menggunakan motor matik. Banyak kejadian pengendara yang celaka di jalan. Karena medan yang dilalui curam dan berkelok. Kendaraan pribadi bisa langsung menuju Ranupani melalui Tumpang. Tarif parkir roda dua 5000 rupiah/hari.

Kendaraan umum. Kereta api Surabaya-Malang (ekonomi) itu 12 ribu rupiah. Kalau dari kota lain, silakan cek di PT KAI

Dari stasiun Malang Kota, cari angkutan ke terminal Arjosari. Jadi oper 2 kali. Lebih enak naik bis. Langsung bisa mencari angkutan umum ke arah Tumpang. Tarif bis Surabaya-Malang itu 14 ribu rupiah. Angkutan umum dari terminal Arjosari ke Tumpang harganya 10 ribu rupiah per orang. Naik angktan umum memang murah, tapi (mungkin) lebih lama. Di terminal akan ada yang menawarkan carter kendaraan. Harganya dua kali lipat lebih mahal, tapi tidak perlu menunggu.

Dari terminal Arjosari, turun di Pasar Tumpang. Disini ada dua pilihan, pilih naik truk atau jeep. Untuk truk harganya 50 ribu per orang. Memang murah tapi harus nunggu penuh dulu baru berangkat. Kalau jeep harga yang ditawarkan 650 per mobil (saya pernah nawar jadi 500 ribu). Maksimal bisa sampai 10 orang dan langsung berangkat.

Jadi semua ada opsinya. Mau murah atau yang nyaman. Tinggal menyesuaikan budget saja.

PACKING YANG BENAR DAN NYAMAN

Sebagian besar waktu akan kita habiskan diperjalanan. Mulai dari Ranu Pani – Ranu Kumbolo yang memakan waktu 5 jam. Ranu Kumbolo – Kalimati yang menempuh waktu 3 jam. Maupun (jika) memilih summit ke Mahameru yang membutuhkan waktu 5 – 8 jam. Mengemas barang bawaan itu penting. Selain demi kenyamanan juga keselamatan.

Oh iya, batas berada di puncak hanya sampai pukul 10.00 WIB. Lebih dari itu tidak disarankan. Karena dikawatirkan arah angin (yang membawa asap beracun) menuju jalur pendakian.

Prinsip mengemas barang bawaan pendakian itu adalah semua perlengkapan masuk dalam tas carrier (kecuali botol air untuk perjalanan) dan taruhlah benda sesuai waktu pemakaian. Misalnya bagian paling bawah itu tenda, sleeping bag, dan baju ganti. Kemudian bekal makanan, air, dan obat-obatan di atasnya. Benda-benda kecil tapi penting seperti ponsel, kamera, pisau lipat, senter bisa ditaruh disamping kiri kanan tas carrier. Atau membawa tas kecil lain.

Tipsnya bungkuslah barang di dalam kantong plastik secara terpisah. Baik sleeping bag, baju, jaket, hingga makanan. Nah, packing yang bagus itu ketika semua barang sudah dimasukkan, carrier akan berdiri tegak walaupun tanpa penyangga.

Masih disayangkan ketika ada pendaki-pendaki asal saja membawa barang bawaan. Bahkan karena belum siap packing, ada barang yang sengaja ditinggalkan dengan alasan tidak muat atau tidak terpakai.

DUKUNG EKONOMI LOKAL

Meningkatnya jumlah pendaki gunung Semeru membawa manfaat tersendiri bagi penduduk sekitarnya. Mulai jasa transortasi, porter, cinderamata, hingga makanan.

Di sepanjang jalur pendakian, banyak penduduk yang menjual makanan dan minuman. Bahkan saya temui hingga Kalimati. Rata-rata mereka menjual air mineral, semangka, gorengan, hingga rokok. Pagi-pagi mereka berangkat dari Ranupani. Mengangkat barang dagangan yang (pastinya) berat. Mereka memanggul beban dan menyusuri jalan setapak di jalur pendakian untuk ditukar dengan uang. Bahkan mereka pulang hingga larut malam. Sudah menjadi rutinitas mereka.

Harganya memang agak mahal. Sepotong semangka atau gorengan seharga 2500 rupiah. Air mineral 1 liter seharga 20 ribu rupiah. Tapi (mungkin) sepadan dengan jarak yang harus mereka lalui. Jadi, saya memutuskan untuk membeli dagangan mereka. Apalah arti terkenalnya sebuah tempat jika penduduknya tidak mendapat apa-apa.

Itulah hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum mendaki gunung Semeru. Tujuan utama bukan puncak, tetapi pulang dengan selamat. Sampai ketemu di puncak-puncak yang lain

Cheers,

Ragil Putri Irmalia



0 Comments

Be the first to comment.