LOGIN TO JOURNESIA

or
CLOSE

Menerawang Peradaban Manusia di Pegunungan Nusantara

satriautm

On

Mendaki gunung, sebuah aktivitas luar ruangan yang mulai populer dalam beberapa tahun ini. Saya pun juga ikut terbawa arus tren mendaki gunung ini pada sejak tiga tahun yang lalu. Bukan untuk menyatu dengan alam, bukan juga karena mencari tantangan. Lebih tepatnya hanya karena terbawa arus dan untuk diunggah di sosial media. Tetapi seiring dengan beberapa gunung yang saya kunjungi dan proses yang melelahkan, alasan yang tidak berbobot dan cetek itu mulai hilang. Dari alasan awal yang tanpa perenungan itu, saya menemukan alasan-alasan lain. Ada sesuatu yang saya rindukan sejak lama yang tidak akan saya dapatkan sesuatu ini jika berada di kampus atau kota. Sesuatu itu bernama kehangatan dan keramahan.

Kehangatan dan keramahan yang tidak saya dapatkan ketika manusia-manusia kota lebih memilih untuk menunduk dan memandangi layar smartphone selama berjam-jam tanpa peduli dengan lingkungan sekitar. Individualistis lebih tepatnya. Ketika saya memilih mematikan gadget saya dan mencoba menyapa tetangga dan masyarakat, mereka tetap sibuk dengan gadget masing-masing dan berselancar di dunia maya. Dunia yang nyata ini saja fana, apalagi dunia maya. Ketika perkembangan teknologi menjadi salah satu indikator kemajuan peradaban manusia, saya pun selalu bertanya-tanya seperti apa peradaban yang mereka maksud? Tidak ada definisi peradaban yang pasti menurut mereka. Yang pasti menurut akal sehat saya peradaban manusia dengan melihat kondisi hari ini mengalami stagnansi, atau bahkan kemunduran?

Ketika saya melakukan pendakian saya bertemu dengan banyak orang. Dengan bertemu berbagai macam orang dengan berbagai karakternya, membuat perspektif saya lebih luas, membuat perspektif menjadi lebih bijak. Ketika manusia-manusia di kota berlomba-lomba dalam kebenaran, saya mencoba berlomba dalam kebaikan. Seperti yang diajarkan oleh agama saya. Saya mencoba mengalah ketika di kota atau kampus jika menemui manusia-manusia seperti itu. Saya mencoba mengalah karena ketika saya tidak mengalah, perjalanan saya yang akan kalah. Dan bagi saya mengalah bukan berarti kalah. Ketika mengalah menjadi pilihan, saya mencoba menerawang bagaimana peradaban manusia ini dibangun? Bagaimana karakteristik masyarakat nusantara yang seharusnya? Kemudian bagaimana rasanya kehangatan dan keramahan warga yang sering sekali saya jumpai di buku-buku sekolah dulu? Dan mendaki gunung menjadi opsi teratas untuk saya.

Setahun pendakian yang saya lakukan hanya mendapat foto bagus dan rasa lelah saja, tidak lebih dan tidak terlalu banyak yang saya pelajari dan saya renungi. Tetapi melalui pengalaman dan pembelajaran di waktu lalu, pada pendakian selanjutnya saya benar-benar merasakan bagaimana rasanya persahabatan, kehangatan dan keramahan. Tidak hanya saya dapat dari rombongan saya sendiri. Tetapi dari rombongan lain juga. Saya masih teringat ketika pada tahun 2015 saya bersama empat kawan saya ketika melakukan summit attack gunung semeru. Sekitar kurang lebih seratus meter mencapai puncak, salah seorang kawan saya mengalami hipotermia dan memaksa kami untuk membawanya turun lagi ke kalimati.

Sebelum kami memutuskan untuk turun ke kalimati, kami sempat stuck dan tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Kemudian datang seorang kawan dari rombongan lain yang menyodorkan meniuman panas dari termos untuk teman saya yang hipotermia. Tak hanya satu kawan saja yang menolong kita. Kemudian ada beberapa juga yang mendatangi kita dan meminjamkan ponco dan alumimnium foil. Bahkan seorang pendaki dari rombongan lain merelakan puncaknya untuk menemani kami turun ke kalimati. Dia mencoba menenangkan kami dan mengajak untuk meredam ego masing-masing untuk kembali turun. Di sini saya sadar persahabatan bukanlah sebuah konsep abstrak. Tetapi persahabatan adalah tindakan. Dalam hati saya hanya berkata, semesta akan membalas kebaikanmu, kawan. Saking baiknya dia sampai saya tak sanggup menyebut namanya di tulisan ini. Sampai hari ini saya dengannya masih menjalin kontak. Bahkan kami sedang merencanakan pendakian bersama dalam beberapa bulan ke depan.

Tidak hanya kejadian summit attack mahameru saja saya mendapatkan saudara baru. Tetapi di pendakian selanjutnya saya juga mendapat beberapa kawan baru yang tak bisa saya tuliskan di artikel ini saking banyaknya. Dalam pendakian saya bisa menanam persaudaraan dan mulai membangun kembali peradaban seperti yang nenek moyang kita lakukan dulu. Karena peradaban manusia itu dibangun atas dasar kemanusiaan dan persaudaraan.

Semesta selalu berjalan seimbang

Sekarang coba kalian matikan smartphone atau gadget kalian. Coba kalian sapa kawan kalian, sapa tetangga kalian dan coba peduli lingkungan sekitar. Ajaklah mereka untuk kembali ke dunia nyata. Cobalah mendaki gunung, ajak kawan aatu sahabat, sapa pendaki lain, ajaklah berkenalan dan saling tukar ilmu rumusan alam. Atau kalau fisik masih belum mampu untuk mendaki gunung, carilah warung kopi yang tidak ada wifi dan colokan. Ajak kawan kalian ngobrol ngalor-ngidul tentang kehidupan. Tanamlah saudara, maka tak lama kalian akan menuai hasilnya. Semesta selalu berjalan seimbang. Apa yang kalian lakukan baik atau buruk sekecil apapun itu semesta akan selalu membalasnya, tidak pernah tidak. Sebab semesta ada karena hukum kesimbangan. 



0 Comments

Be the first to comment.